Home Reading Fiction Stories Mimpi di Kamar Merah Daiyu Buries the Flowers(Daiyu Mengubur Bunga)

Daiyu Buries the FlowersDaiyu Mengubur Bunga

265 kata
2 minutes
0:00 / --:--

Chapter 7: Daiyu Buries the Flowers

Bab 7: Daiyu Mengubur Bunga

Spring had arrived in the Grand Garden, and the trees were covered with pink and white blossoms. But as the wind blew through the branches, the petals fell to the ground like snow. Daiyu watched the flowers drop one by one, and her heart filled with sadness.

Musim semi telah tiba di Taman Besar, dan pohon-pohon ditutupi bunga merah muda dan putih. Tetapi ketika angin bertiup melalui cabang-cabang, kelopak bunga jatuh ke tanah seperti salju. Daiyu menyaksikan bunga-bunga jatuh satu per satu, dan hatinya dipenuhi kesedihan.

"Why must beautiful things fade so quickly?" she asked herself. She took a small silk bag and began to collect the fallen petals. Her fingers moved gently, as if she were picking up pieces of her own broken dreams. "I will bury them in the earth, where they can rest in peace."

"Mengapa hal-hal indah harus menghilang begitu cepat?" tanyanya pada dirinya sendiri. Dia mengambil kantong sutra kecil dan mulai mengumpulkan kelopak bunga yang jatuh. Jari-jarinya bergerak lembut, seolah-olah dia sedang mengumpulkan potongan-potongan mimpinya yang hancur. "Aku akan mengubur mereka di tanah, di mana mereka bisa beristirahat dengan damai."

Baoyu found her by the garden wall, tears streaming down her face. "What are you doing, Daiyu?" he asked softly. She showed him the bag of petals and explained her plan to give them a proper burial. Baoyu understood her feelings better than anyone. He knelt beside her and helped her gather the flowers.

Baoyu menemukannya di dekat dinding taman, air mata mengalir di wajahnya. "Apa yang kamu lakukan, Daiyu?" tanyanya dengan lembut. Dia menunjukkan kantong kelopak bunga dan menjelaskan rencananya untuk memberikan pemakaman yang layak. Baoyu memahami perasaannya lebih baik dari siapa pun. Dia berlutut di sampingnya dan membantunya mengumpulkan bunga.

Together, they dug a small hole beneath a tree and placed the petals inside. Daiyu covered them with soft soil and whispered a poem she had written. The words spoke of youth and beauty, of love and loss, of all the things that must pass away. Her voice was clear and sad, like a bird singing at dusk.

Bersama-sama, mereka menggali lubang kecil di bawah pohon dan meletakkan kelopak bunga di dalamnya. Daiyu menutupinya dengan tanah lembut dan membisikkan puisi yang telah dia tulis. Kata-kata itu berbicara tentang masa muda dan keindahan, cinta dan kehilangan, tentang semua hal yang harus berlalu. Suaranya jernih dan sedih, seperti burung yang bernyanyi saat senja.

From that day on, the scene of Daiyu burying flowers became a memory that would never fade. It showed the world how deeply she felt about the passing of time and the fragility of life. For Daiyu, every falling petal was a reminder that nothing beautiful lasts forever.

Sejak hari itu, adegan Daiyu mengubur bunga menjadi kenangan yang tidak akan pernah memudar. Itu menunjukkan kepada dunia betapa dalamnya dia merasakan tentang berlalunya waktu dan kerapuhan kehidupan. Bagi Daiyu, setiap kelopak yang jatuh adalah pengingat bahwa tidak ada yang indah bertahan selamanya.

Kosakata kunci & frasa

Kata sulit

blossomsduskfragilitykneltpetalpetals

Frasa kunci

drop byone by onepass awaypick up