The Broken Dreams

165 kata
2 minutes
0:00 / --:--

Chapter 17: The Broken Dreams

Hometown - Bab 17

I sat in the courtyard of the old house, thinking about my own dreams.

Mimpi yang Hancur

When I was a child, I had many dreams. I wanted to become a scientist, wanted to become a writer, wanted to become a useful person. I thought that as long as I studied hard, as long as I passed the university exams, my dreams would come true.

Saya duduk di halaman rumah tua, memikirkan mimpi-mimpi saya sendiri.

Now, I have graduated from university and found a job in the city. But have my dreams come true? Did I become a scientist? Become a writer? Become a useful person?

Ketika saya masih kecil, saya punya banyak mimpi. Saya ingin menjadi ilmuwan, ingin menjadi penulis, ingin menjadi orang yang berguna. Saya pikir selama saya belajar dengan giat, selama saya lulus ujian universitas, mimpi-mimpi saya akan menjadi kenyataan.

I feel that I haven't become anything. I am just an ordinary person, living an ordinary life. Going to work and coming home every day, earning money to support my family. My dreams are all broken.

Sekarang, saya telah lulus dari universitas dan menemukan pekerjaan di kota. Tetapi apakah mimpi-mimpi saya menjadi kenyataan? Apakah saya menjadi ilmuwan? Menjadi penulis? Menjadi orang yang berguna?

Perhaps, this is reality. There is always a big gap between ideals and reality. Everyone has dreams, but not everyone's dreams can be realized.

Saya merasa bahwa saya belum menjadi apa-apa. Saya hanya orang biasa, menjalani kehidupan biasa. Pergi bekerja dan pulang setiap hari, mencari uang untuk menghidupi keluarga saya. Mimpi-mimpi saya semuanya hancur.

I looked at the sky and sighed.

Mungkin, ini adalah kenyataan. Selalu ada kesenjangan besar antara cita-cita dan kenyataan. Setiap orang punya mimpi, tetapi tidak semua mimpi orang bisa terwujud.

Saya menatap langit dan menghela nafas.

Kosakata kunci & frasa

Kata sulit

courtyardgraduated

Frasa kunci

the citythink about