Chapter 15: The Poverty of the Peasants
Hometown - Bab 15
Besides Run Tu, many other farmers came too. They wore worn-out clothes, their faces covered with wrinkles, looking very tired.
Kemiskinan Petani
They came to help move things, not asking for payment, just to help out. They were very friendly, very honest, but also very poor.
Selain Run Tu, banyak petani lain juga datang. Mereka mengenakan pakaian usang, wajah mereka penuh kerutan, terlihat sangat lelah.
I saw one farmer whose shoe had a large hole, and his toes were exposed. I asked him, "Your shoe is broken, why don't you buy new ones?"
Mereka datang untuk membantu memindahkan barang, tidak meminta bayaran, hanya untuk membantu. Mereka sangat ramah, sangat jujur, tetapi juga sangat miskin.
He said, "No money, as long as it can be worn, it's fine."
Saya melihat seorang petani yang sepatunya berlubang besar, dan jari kakinya terlihat. Saya bertanya padanya, "Sepatumu rusak, mengapa kamu tidak membeli yang baru?"
I looked at him, feeling very sad. These people have to labor hard every day, but their income is very little. They can't afford new clothes, can't afford new shoes, and can't even afford their children's tuition.
Dia berkata, "Tidak ada uang, selama masih bisa dipakai, tidak apa-apa."
Is this the reality of the countryside? Is this the life of farmers?
Saya memandangnya, merasa sangat sedih. Orang-orang ini harus bekerja keras setiap hari, tetapi pendapatan mereka sangat sedikit. Mereka tidak mampu membeli pakaian baru, tidak mampu membeli sepatu baru, dan bahkan tidak mampu membayar uang sekolah anak-anak mereka.
Apakah ini realitas pedesaan? Apakah ini kehidupan petani?